Minggu, 16 September 2012

Inkontinensia Urine



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.
Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan meningkat dengan bertambahnnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih didapatkan kejadian 10%, sedang pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalansi meningkat sampai 16% pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Pada nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10% dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak.
Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Jenis inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan.
Tujuan penyajian referat ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut mengenai inkontinensia urine, jenis-jenis dan cara penanganannya. Pemahaman yang lebih baik akan membantu usaha mengatasi gangguan ini.

1.2         Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan  Keperawatan Pasien dengan inkontinensia Urine ?

1.3         Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Menjelaskan Asuhan Keperawatan pasien dengan inkontnensia urin.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Untuk memahami pengertian dari inkontinesia urine.
2.      Untuk mengetahui klasifikasi dari inkontinensia urin.
3.      Untuk mengetahui etiologi inkontinensia urin.
4.      Untuk mengetahui patofisiologi inkontinensia urin.
5.      Untuk mengetahui maninfestasi klinis inkontinensia urin.
6.      Untuk mengetahui penatalaksanaan inkontinensia urin

1.4         Manfaat
1.4.1        Bagi Pembaca
Agar pembaca dapat menambah pengetahuan tentang inkontinensia urin.
1.4.2        Bagi Penulis
Mampu memahami tentang bagaimana asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia urine







BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi
Inkontinensia Urine (IU) atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia. Inkontinensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses) (brunner, 2011).

2.2     Klasifikasi
Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine, di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu :
A.      Inkontinensia stres (Stres Inkontinence)
Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.
Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan. Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap hari, merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini.
Biasanya dalam pemeriksaan badan tidak dijumpai kelainan pada ginjal dan kandung kemih. Pada pemeriksaan vulva ternyata bahwa sewaktu mengejan dapat dilihat dinding depan vagina. Informasi yang penting bisa diperoleh dengan percobaan Marshall-Marchetti. Penderita diminta untuk berkemih di WC sampai habis. Dalam posisi ginekologis dimasukan kateter ke dalam kandung kemih. Ditentukan jumlah urine yang tersisa. Kemudian diikuti oleh pengisian kandung kemih dengan air sampai penderita merasa ingin berkemih. Dengan demikian ditentukan kapasitas kandung kemih. Normalnya seharusnya 400-450 ml. Kemudian dicoba menirukan stres yang mengakibatkan pengeluaran urine dengan meminta penderita batuk. Jika pada posisi berbaring tidak terjadi pengeluaran urine, maka percobaan diulang pada posisi berdiri dengan tungkai dijauhkan satu sama lain.
Pada inkontinensia stres sejati, harus terjadi pengeluaran urine pada saat ini. Kemudian dicoba dengan korentang atau dengan dua jari menekan dinding depan vagina kanan dan kiri sedemikian rupa ke arah kranial sehingga sisto-uretrokel hilang. Penderita diminta batuk lagi. Bila sekarang pengeluaran urine terhenti maka ini menunjukkan penderita akan dapat disembuhkan dengan operasi kelainan yang dideritanya. Pemeriksaan ini dapat ditambah dengan sistometri, sistoskopi serta kalibrasi pada uretra untuk menyingkirkan kemungkinan stenosis.
Pada foto rontgen lateral atas sistogram miksi bisa tampak sudut terbelakang vesikouretra membesar sampai 1800 atau lebih. Normalnya sudut ini sekitar 1200. Gambaran ini menegaskan adanya sistokel pada pemeriksaan badan.


Gambar 2.1 : Anatomi Sudut Vesikouretra
a.     Normal : Sudut vesikouretra 1200
1. simfisi, 2. Uretra, 3. Vesika, 4. Sudut 1200
b.    Patologik : Sudut vesikouretra 1800
1. simfisi, 2. Uretra, 3. Vesika, 4. Sudut 1800

Diagnosis dengan pengobatan inkontinensia pada wanita merupakan masalah interdisipliner antara urologi dan ginekologi. Di sini pengambilan keputusan yang tepat setidak-tidaknya sama penting seperti mutu pengobatan. Sering terdapat kelainan ginekologis yang juga harus diobati. Kebanyakan diagnostik yang tepat ditegakkan dari kerjasama yang baik antara urolog dan ginekolog. Pada inkontinensia stres yang ringan, misalnya yang menghabiskan 3-4 pembalut sehari, penderita bisa memperoleh perbaikan dengan fisioterapi dan senam untuk otot-otot dasar panggul. Pada prinsipnya pengobatan inkontinensia stres bersifat operatif. Dikenal berbagai teknik bedah yang semuanya dapat memberikan perbaikan 80-90 kasus. Semua bentuk operasi ini berlandaskan pada prinsip yang sama yaitu menarik dinding vagina ke arah ventral untuk menghilangkan sistokel dan mengembalikan sudut vesiko-uretral menjadi 1200 seperti semula. Ini dapat terlaksana dengan menjahitkan dinding vagina pada periosteum tulang pubis (teknik Marshall-Marchetti); dengan mengikatkan dinding vagina lebih lateral pada lig. Pouparti (teknik Burch) atau dengan bedah ‘sling’, menarik uretra ke atas memakai selembar fasia atau bahan yang tidak dapat diresorpsi serta diikatkan pada fasia abdominalis.Biasanya keluhan stres dan desakan bercampur aduk. Dalam keadaan seperti ini, sangat penting diagnostik yang cermat yang juga meliputi sistometri dan pengukuran aliran. Apabila inkontinensia desakan dengan atau tanpa pembentukan sisa urine diobati dengan salah satu bedah plastik suspensi di atas, maka pola keluhan semula dapat lebih mengikat.
Komplikasi terapi bedah inkontinensia stres terutama terdiri dari pembentukan sisa urine segera dalam fase pascabedah. Biasanya masalah ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kateterisasi intermiten, dengan karakter yang ditinggalkan atau lebih baik dengan drainase kandung kemih suprapubik. Hal ini memungkinkan pencarian pembentukan sisa urine tanpa kateterisasi. Komplikasi lain biasanya berasal dari indikasi yang salah. Perforasi kandung kemih dengan kebocoran urine, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan dan osteitis pubis pada operasi Marshall-Marchetti-Krantz merupakan komplikasi yang jarang terjadi.
B.       Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence)
Inkontinensia desakan adalah keluarnya urine secara involunter dihubungkandengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya (urgensi). Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil. Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis.
Penyebab kandung kemih tak stabil adalah idiopatik, diperkirakan didapatkan pada sekitar 10% wanita, akan tetapi hanya sebagian kecil yang menimbulkan inkontinensia karena mekanisme distal masih dapat memelihara inkontinensia pada keadaan kontraksi yang tidak stabil.
Rasa ingin miksi biasanya terjadi, bukan hanya karena detrusor (urgensi motorik), akan tetapi juga akibat fenomena sensorik (urgensi sensorik). Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal, yang sering dihubungkan dengan gangguan meatus uretra, divertikula uretra, sistitis, uretritis dan infeksi pada vagina dan serviks. Burnett, menyebutkan penyebabnya adalah tumor pada susunan saraf pusat, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, gangguan pada sumsum tulang, tumor/batu pada kandung kemih, sistitis radiasi, sistitis interstisial. Pengobatan ditujukan pada penyebabnya. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif, termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik. Pemeriksaan urodinamik yang diperlukan yaitu sistometrik.
C.       Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence)
Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor. Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes.
Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel, penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula spinalis.
Corak atau sifat gangguan fungsi kandung kemih neurogen dapat berbeda, tergantung pada tempat dan luasnya luka, koordinasi normal antara kandung kemih dan uretra berdasarkan refleks miksi, yang berjalan melalui pusat miksi pada segmen sakral medula spinalis. Baik otot kandung kemih maupun otot polos dan otot lurik pada uretra dihubungkan dengan pusat miksi.
Otot lurik periuretral di dasar panggul yang menjadi bagian penting mekanisme penutupan uretra juga dihubungkan dengan pusat miksi sakral. Dari pusat yang lebih atas di dalam otak diberikan koordinasi ke pusat miksi sakral. Di dalam pusat yang lebih atas ini, sekaligus masuk isyarat mengenai keadaan kandung kemih dan uretra, sehingga rasa ingin miksi disadari.
Refleks miksi juga dipengaruhi melalui pleksus pelvikus oleh persarafan simpatis dari ganglion yang termasuk L1, L2, L3. Pada lesi, dapat terjadi dua jenis gangguan pada fungsi kandung kemih yaitu :
1.         Lesi Nuklear (tipe LMN)
Pada lesi di pusat sakral yang menyebabkan rusaknya lengkung refleks terjadi kelumpuhan flasid pada kandung kemih dan dasar panggul. Sehingga miksi sebenarnya lenyap.
2.         Lesi Supranuklear (Tipe UMN)
Lesi terjadi di atas pusat sakral, dengan pusat miksi sakral dan lengkung refleks yang tetap utuh, maka hilangnya pengaruh pusat yang lebih atas terhadap pusat miksi. Miksi sakral menghilangkan kesadaran atas keadaan kandung kemih. Terjadi refleks kontraksi kandung kemih yang terarah kepada miksi yang otomatis tetapi tidak efisien karena tidak ada koordinasi dari pusat yang lebih atas. Sering kontraksi otot dasar panggul bersamaan waktunya dengan otot kandung kemih sehingga miksi yang baik terhalang. Juga kontraksi otot kandung kemih tidak lengkap sehingga kandung kemih benar-benar dapat dikosongkan.

Gambar 2.2 : Persarafan kd. Kemih, uretra dan otot-otot periuretral. Otot polos uretra digambar bertitik ; Otot lurik dasar panggul dan uretra digambar lurik. (dikutip dari kepustakaan no.2)

Terdapat beberapa macam tes untuk memeriksa aktifitas refleks pada segmen sakral medula spinalis. Bila ada aktifitas sakral, mungkin lesi jenis supranuklear.
Ø  Refleks anus : kulit di dekat anus dirangsang dengan sebuah jarum. Kontraksi pada sfingter anus bagian luar membuktikan bahwa refleks ini ada. Jari yang dimasukan di dalam rektum merasakan bahwa sfinger anus menegang.
Ø  Refleks bulbokavernosus : sewaktu klitoris dipijit pada pemeriksaan rektal terjadi kontraksi otot bulbo dan iskiokavernosus.
Ø  Refleks ketok abdomen : ketokan pada dinding perut diatas simfisis menyebabkan tegangnya sfingter ani. Ini dapat diraba dengan jari didalam rektrum.
Ø  Tes air es : kandung kemih dikosongkan dengan kateter, lalu diisi 60-90 ml air es. Jika dalam waktu satu menit kateter beserta air es tertekan keluar lagi, terbukti adanya gangguan fungi kandung kemih jenis supranuklear.
D.      Fistula urine
Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi dan kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam. Dapat juga timbul beberapa hari sesudah partus lama, yang disebabkan karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di tulang pubis dan simfisis, sehingga menimbulkan iskemia dan kematian jaringan di jalan lahir.
Operasi ginekologis seperti histerektomi abdominal dan vaginal, operasi plastik pervaginam, operasi radikal untuk karsinoma serviks uteri, semuanya dapat menimbulkan fistula traumatik. Tes sederhana untuk membantu diagnosis ialah dengan memasukan metilen biru 30 ml kedalam rongga vesika. Akan tampak metilen biru keluar dari fistula ke dalam vagina.
Untuk memperbaiki fistula vesikovaginalis umumnya dilakukan operasi melalui vagina (transvaginal), karena lebih mudah dan komplikasi kecil. Bila ditemukan fistula yang terjadi pasca persalinan atau beberapa hari pascah bedah, maka penanganannya harus ditunda tiga bulan. Bila jaringan sekitar fistula sudah tenang dan normal kembali operasi baru dapat dilakukan.

2.3         Etiologi
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.
Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

2.4         Patofisiologi
Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

2.5         Manifestasi Klinis
1.        Inkontinensia stres: keluarnya urin selama batuk, mengedan, dan sebagainya. Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stres.
2.        Inkontinensia urgensi: ketidakmampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih.
3.        Enuresis nokturnal: 10% anak usia 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun mengompol selama tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang abnormal dan menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak stabil.
4.        Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi (pancara lemah, menetes), trauma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal), fistula (menetes terus-menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus besar) atau penyakit sistemik (misalnya diabetes) dapat menunjukkan penyakit yang mendasari.

2.6         Penatalaksanaan
Latihan otot-otot dasar panggul Latihan penyesuaian berkemih Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen Tindakan pembedahan memperkuat muara kandung kemih
1.        Inkontinensia urgensi
a.         Latihan mengenal sensasi berkemih dan penyesuaiany
b.          Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen
c.         Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan dan lain-lain keadaan patologik yang menyebabkan iritasi pada saluran kemih bagian bawah.
d.         Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak mungkin secara menetap.
e.         Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan
2.         Inkontensia overflow
a.         Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak mungkin secara menetap
b.         Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan
3.         Inkontinensia tipe fungsional
a.         Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan berkemih
b.         Pekaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya
c.         Penyesuaian/modifikasi lingkungan tempat berkemih
d.        Kalau perlu digaunakan obat-obatan yang merelaksasi kandung kemih








2.7       Pathway














 

















Kehilangan sensasi dan reflek sfinter 
 
MK: Inkontinensia urin 
 
 
                                                                                                                                   









BAB 3
ASKEP INKONTINENSIA URIN

3.1  PENGKAJIAN
3.1.1 Anamnese
1.      Identitas Klien                   
Nama                                  : Ny. M
 Tempat/Tanggal Lahir        :  55 th
Jenis kelamin                       : Perempuan
Status Perkawinan              : -                             
Pendidikan                          : -                                      
Pekerjaan                            : -                       
Suku/Bangsa                       : Indonesia                                
Tanggal Masuk RS             : Rabu, 23 November 2011            No. RM                        : 235501                              
Ruang                                 : Dahlia                           
Diagnosa Medis  
2.      Riwayat Sakit dan Kesehatan
a.       Keluhan Utama
Pasien mengeluh  keluar kencing saat tertawa, bersin dan batuk, sering kencing sekitar 2 jam sekali.
b.      Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengeluh  keluar kencing saat tertawa, bersin dan batuk, sering kencing sekitar 2 jam sekali. Pasien malu, dan merasa tidak nyaman dengan hal itu sehingga dia tidak mau bergaul dengan teman-2nya sesama lansia .
c.       Riwayat kesehatan keluarga
Negative
d.      Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
Negative
e.       Lingkungan yang mempengaruhi kesehatan
Negative
f.       Riwayat alergi
Negative

3.1.2   Pemeriksaan fisik
A.    Keadaan Umum
Pasien tanpak lemah dan tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya inkontinesia.
B.     Pemeriksaan Sistem
1.      B1 (breathing)
Negative (tidak ada)
2.      B2 (blood)
Negative (tidak ada)
3.      B3 (brain)
Negative (tidak ada)
4.      B4 (bladder)
Setiap ada peningkatan tekanan intra abdomen urine pasien menetes keluar.
Kebersihan: negative
urin: 
          jumlah             : -
          warna              : -
          Bau                  : -
Kandung kemih
          Membesar        : tidak
          Nyeri tekan     : tidak
Gangguan
          Anuria             : tidak
          Oliguria           : tidak
          Retensi            : tidak
          Nokturia          : tidak
          Inkontinensia  : ada
          Lain-lain          :
5.      B5 (bowel)
Negative (tidak ada)
6.      B6 (bone)
Negative (tidak ada)

3.2  DIAGNOSA KEPERAWATAN
ANALISA DATA
ANALISA
ETIOLOGI
M.K
D.K
Data subjektif:
Pasien mengeluh keluar kencing saat tertawa, bersin dan batuk, sering kencing sekitar 2 jam sekali
Data obyektif :
setiap kali ada peningkatan tekanan intra abdomen urine pasien menetes keluar










Degenerative sel  

 
Kehilangan sensasi dan reflek sfinter 

 
MK: Inkontinensia urin 

 
Terjadi paralisis pada saluran perkemihan

 
Penurunan saluran system perkemihan

 
Inkontinensia urin stress
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

Data subjektif:
Pasien malu, dan merasa tidak nyaman dengan hal itu sehingga dia tidak mau bergaul dengan teman-2nya sesama lansia.
Data objektif :
-






MK. Interaksi sosial, hambatan 

 
Gangguan konsep diri 

 
Pasien  merasa malu

 
Pengeluaran urin yang terlalu sering  

 
Interaksi sosial, hambatan
Interaksi sosial, hambatan b/d gangguan konsep diri

3.3  INTERVENSI
INTERVENSI
No
Diagnosa
Intervensi
Rasional
1.
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

Tujuan:
a.       Menunjukkan kontinensia urin.
b.      Keadekuatan waktu untuk mencapai kamar kecil antara urgensi dan pengeluaran urin.
c.       Pakaian dalam tetap kering sepanjang hari
d.      Mampu berkemih secara mandiri.

Kriteria Hasil:
Kontinensia urin. Mempertahankan frekuensi berkemih lebih dari 2 jam.

Lakukan latihan otot dasar panggul




Lakukan perawatan inkontinensia urin






Identifikasi penyebab inkontinensia multifaktorial

Memperkuat otot pubotogsigeal dengan kontraksi volunteer berulang.

untuk meningkatkan kontinensia urin dan untuk mempertahankan intregitas kulit perineal.

Untuk mengetahui penyebab inkontinensia urin
2.
Interaksi sosial, hambatan b/d gangguan konsep diri

Tujuan:
a.       Menunjukkan penampilan peran
b.      Menunjukkan keterlibatan sosial

Kriteria Hasil:
a.       Keterampilan interaksi sosial: penggunaan perilaku interaksi sosial yang efektif.
b.      Keterlibatan sosial:interaksi sosial individu yang sering dengan orang lain, kelompok atau organisasi

Tingkatankan sosialisasi




Kaji pola interaksi antara pasien dengan orang lain 



Untuk meningkatkan interaksi pasien dengan orang lain

Untuk mengetahui pola interaksi pasien dengan orang lain


3.4  IMPLEMENTASI
IMPLEMENTASI
Hari/tanggal
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Paraf
Senin, 26 November 2011
Pukul. 07.00
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

mengidentifikasi penyebab inkontinensia multifaktorial


Senin, 26 november 2011
Pukul 13.00
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

melakukan perawatan inkontinensia urin

Selasa, 26 november 2011
Pukul. 07.00
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

melakukan perawatan inkontinensia urin

Selasa, 26 november 2011
Pukul. 13.00
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

melakukan latihan otot dasar panggul

Rabu, 27 november 2011
Pukul. 07.00
Inkontinensia urin stress b/d perubahan degenerative pada otot pelvis dan struktur pendukungnya yang dihubungkan usia lanjut.

melakukan perawatan inkontinensia urin


Rabu, 26 november 2011
Pukul. 13.00
Interaksi sosial, hambatan b/d gangguan konsep diri

Mengkaji  pola interaksi antara pasien dengan orang lain

Meningkatankan  sosialisasi


3.5  EVALUASI
S : Pasien mengatakan bahwa tidak mengeluarkan urin pada saat bersin dan tertawa.
O: Setiap ada peningkatan tekanan intra abdomen urin pasien tidak menetes.
       Pasien mengeluarkan urin lebih dari 2 jam sekali.
A:  Masalah teratasi
P:  Masalah teratasi pasien pulang.






BAB 4
PENUTUP

4.1              Kesimpulan
Inkontinensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan sosial.
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni.Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet
Asuhan keperawatan inkontinensia urin meliputi pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.

4.2              Saran
4.2.1         Bagi pembaca diharapkan menambah pengetahuan tentang inkontinensia urin.
4.2.2         Bagi penyusun diharapkan menambah pengetahuan tentang asuhan keperawatan tentang inkontinensia urin.










DAFTAR PUSTAKA

Nanda. 2009. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC
Wilkinson M Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan NOC. Jakarta: EGC